Blogger Backgrounds

Kamis, 13 November 2014

Tugas Softskill ke-3 Etika Profesi Akuntansi

Tugas Softskill ke-3
Etika Profesi Akuntansi

Nama : Lia Septyana Maharany
Kelas : 4EB18
NPM :24211095


     a.    Whistle Blowing
Whistle blowing  adalah tindakan seorang pekerja yang memutuskan untuk melapor kepada media, kekuasaan internal atau eksternal tentang hal-hal ilegal dan tidak etis yang terjadi di lingkungan kerja.
Menurut Vardi dan Wiener (1996), tindakan seperti ini termasuk tindakan menyimpang karena menyalahi aturan inti pekerjaan dalam perusahaan yang harus dipatuhi oleh semua pekerja. Sedangkan menurut Moberg (1997), tindakan ini dikategorikan sebagai penghianatan terhadap perusahaan.
Whistle Blowing dalam perusahaan (misalnya atasan) dapat disebut sebagai perilaku menyimpang tipe O jika termotivasi oleh identifikasi perasaan yang kuat terhadap nilai dan misi yang dimiliki perusahaan, dengan kepedulian terhadap kesuksesan perusahaan itu sendiri. Whistle blowing yang bersifat “pembalasan dendam” dikategorikan sebagai perilaku menyimpang tipe D karena ada usahan untuk menyebabkan suatu bahaya. Menurut (Dworkin & Nera, 1997) menganggap whistle blowing sebagai suatu bentuk tindakan kewarganegaran yang baik, harus didorong dan bahkan dianugerahi penghargaan. Menurut (Near & Miceli, 1986) whistle blowing biasanya dipandang sebagai perilku menyimpang. Atasan menganggapnya sebagai tindakan yang merusak yang kadang berupa langkah pembalasan dendam yang nyata.
Whistle blowing dibedakan menjadi 2 yaitu whistle blowing internal dan whistle blowing eksternal. Whistle blowing internal terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecuranganyang dilakukan karyawan kemudian melaporkan kecurangan tersebut kepada atasannya. Whistle blowing eksternal terjadi ketika seorang karyawan mengetahui kecurangan yang dilakukan oelh perusahaan lalu membocorkan kepada masyarakat karena kecurangan itu akan merugikan masyarakat.

     b.    Alasan terjadinya Whistle Blowing
1.     Pergerakandalam perekonomian yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pendidikan, keahlian, dan kepedulian sosial dari para pekerja.
2.    Keadaan ekonomi sekarang telah memberi informasi yang intensif dan menjadi pergerakan informasi.
3.    Akses informasi dan kemudahan berpublikasi menuntut whistle blowing sebagai fenomena yang tidak bisa dicegah atas pergeseran perekonomian ini (Rothschild & Miethe, 1999).
     c.    Creative Accounting
Creative accounting menggunakan pemikiran kreatif dalam menyusun keuangan yang identik dengan manipulasi dan kecurangan akuntansi. Hal ini terjadi karena dalam proses creative accounting memanfaatkan grey-area yang terdapat pada sistem akuntansi.
Creative accounting biasanya digunakan oleh manajemen untuk meningkatkan laba perusahaan agar mendapatkan reward dari pemilik perusahaan. Namun, dalam proses mendapatkan laba perusahaan, manajemen menggunakan berbagai teknik creative accounting yang terkadang ilegal dan hanya bertahan sementara. Teknik yang dilakukan oleh manajemen terkadang tidak diketahui oleh pengguna laporan keuangan sehingga dapat merugikan pengguna laoran keuangan dan menyebabkan terjadinya asimetri informasi.
Creative Accounting terdiri dari 2 kata yaitu “creative” yang artinya kebolehan seseorang menciptakan ide baru yang efektif, dan kata “akuntansi” yang artinya pembukuan tentang financial events yang senantiasa berusaha untuk setia kepada kondisi keuangan yang sebenarnya. Menurut Amat, Blake dan Dowd (1999) creative accounting adalah sebuah proses dimana beberapa pihak menggunakan kemampuan pemahaman pengetahuan akuntansi (termasuk didalamnya standar, teknik,dsb) dan menggunakannya untuk memanipulasi pelaporan keuangan. Sedangkan menurut Stolowy dan Breton (2000) creative accounting adalah sebuah bagian dari “accounting manipulation” yang terdiri dari “earning management”, “income smoothing”, dan “creative accounting” itu sendiri. Dalam pemahaman Sulistiawan (2010), creative accounting adalah alat sebagai bagian perilaku manusia untuk mencapai tujuannya.
Sehingga “creative accounting” yaitu akar dari sejumlah skandal akuntansi, dan banyak usulan untuk reformasi akuntansi-biasanya berpusat pada analisis diperbaharui modal dan faktor produksi yang benar akan mencerminkan bagaimana nilai tambah.

     d.    Fraud Accounting
Menurut Alison (2006) mendefinisikan kecurangan (fraud) sebagai bentuk penipuan yang disengaja dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut.

     e.    Contoh Fraud
1.     Contoh kasus Fraud Accounting “Melinda Dee”
Kejahatan yang dilakukan tersangka mantan manajer senior Citibank Gedung Land Mark di Jl.Jend. Sudirman, Jakarta Pusat Melinda Dee (47) dinilai polisi berkategori terbesar sebagai kasus yang ditangani pada tahun 2011. Melinda dikabarkan bisa melakukan kejahatannya dengan melakukan pertemuan dengan nasabahnya. Pada pertemuan tersebut melinda meminta nasabahnya yeng merupakan perusahaan besar untuk mendatangani dokumen kosong. Melinda juga memanfaatkan kecantikannya untuk merayu nasabah agar calon korban itu mau mempercayakan uangnya untuk dikelola sebagai investasi oleh tersangka. Selain menggelapkan uang nasabahnya tanpa sepengatahuan pemilik rekening, Melinda diduga kerap melakukan pembobolan dana Citibank dengan cara menipu. Berikut ini sejumlah barang bukti yang berhasil ditemukan aparat kepolisisn, diantara mobil Hummer keluaran 2010 yang dibeli secara kredit dengan uang muka Rp 310 juta yang dibayarkan dari salah satu nasabah tersebut. Kemudian, mobil Mercedes 2010 yang dibeli secara kredit dengan uang muka Rp 246 juta yang juga dibayar dari dana nasabah. Kemudian, mobil Ferari tahun 2010. Uang muka kedua mobil Ferari tersebut sebesar Rp 1,6 Miliar. Barang bukti lain terdiri terdiri dari 29 formulir transfer. Dikatakan, pihaknya masih membutuhkan izin untuk membuka 30 rekening yang sudah diblokir. Selain itu, pihkanya juga menemukan rekening baru senilai Rp 11 Miliar lebih, namun ini masih diselidiki apakah diperoleh dari nasabah atau lainnya. Penyidikan juga masih melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk pengejaran aset yang diduga hasil kejahatan. Berdasarkan penyelidikan, diketahui tersangka juga membeli sebuah apartemen di kawasan SCBD secara kredit. Mabes Polri masih melakukan penyelidikan terhadap saksi penting lainnya, yang saat ini telah mencapai lebih dari 15 orang. Dalam gelar kasus kejahatan perbankan ini, Mabes Polri juga menggelar sejumlah barang bukti, terutama terkait kasus pembobolan dana nasabah Citibank. Barang bukti itu terdiri dari dokumen-dokumen dan puluhan handphone.
2.    Perusahaan  terbesar ke  tujuh di AS yang   bergerak di bidang industri  energi
Para manajernya  memanipulasi  angka  yang menjadi  dasar  untuk memperoleh kompensasi moneter yang   besar. Praktik kecurangan yang dilakukan antara  lain  yaitu di Divisi Pelayanan Energi,  para  eksekutif melebih-lebihkan nilai kontrak  yang  dihasilkan  dari  estimasi  internal.  Pada  proyek  perdagangan  luar negerinya  misal  di  India  dan  Brasil,  para  eksekutif  membukukan  laba  yang mencurigakan.  Strategi  yang  salah,  investasi  yang  buruk  dan  pengendalian keuangan  yang  lemah  menimbulkan  ketimpangan  neraca  yang  sangat  besar  dan harga  saham  yang dilebih-lebihkan. Akibatnya  ribuan  orang  kehilangan  pekerjaan dan  kerugian pasar milyaran dollar pada nilai pasar (Schwartz, 2001; Mclean, 2001). Kasus  ini  diperparah  dengan  praktik  akuntansi  yang  meragukan  dan  tidak independennya  audit  yang  dilakukan  oleh  Kantor  Akuntan  Publik  (KAP)  Arthur Andersen  terhadap  Enron.  Arthur  Anderson,  yang  sebelumnya  merupakan  salah satu  “The big  six”  tidak hanya melakukan memanipulasi  laporan keuangan Enron tetapi  juga  telah  melakukan  tindakan  yang  tidak  etis  dengan  menghancurkan dokumen-dokumen  penting  yang  berkaitan  dengan  kasus  Enron.  Independensi sebagai  auditor  terpengaruh  dengan  banyaknya  mantan  pejabat  dan  senior  KAP Arthur Andersen yang bekerja dalam department akuntansi Enron Corp. Baik Enron maupun  Anderson,  dua  raksasa  industri  di  bidangnya,  sama-sama  kolaps  dan menorehkan sejarah kelam dalam praktik akuntansi. 
3.    Kasus BSM
Pt. Bank Syariah Mndiri (BSM) tersandung kasus fraud yang dilakukan tiga pejabat Kantor Cabang Utama Bogor (Kepala Cabang BSM Bogor M.Agustinus Masrie, Kepala Cabang Pembantu BSM Bogor Chaerulli Hermawan, Accounting Officer BSM Cabang pembantu Bogor John Lopulisa) dan 1 orang debitur (Iyan Permana) , setelah pihak kepolisisan menetapkan adanya pembobolan dana lewat pembiayaan fiktif dari anak usaha Pt. Bank Mandiri (Persero) Tbk tersebut. Total kredit yang dicairkan adalah sebesar Rp 102 Milyar dengan kerugian mencapai Rp 52 Milyar (beberapa media menyebutkan Rp 59 Milyar). Modusnya adalah dengan melakukan pencairan kredit fiktif dengan menggunakan nama 197 debitur dimana 113 debitur adalah fiktif. Pencairan kredit tersebut dimulai sejak tahun 2011. Namun sampai saat sekarang yang baru kembali hanya Rp 43 Milyar. Sisanya, sebesar Rp 59 Milyar masih dalam pelacakan.
4.    Kasus Pada Pt. Kimia Farma
Terungkapnya kasus mark-up laporan keuangan PT. Kimia Farma yang overstated, yaitu adanya penggembungan laba bersih tahuan senilai Rp 32,668 Milyar (karena laporan keuangan yang seharusnya Rp 99,594 milyar ditulis Rp 132 milyar). Kasus ini melibatkan sebuah kantor akuntan publik yang menjadi auditor perusahaan tersebut ke pengadilan, meskipun KAP tersebut yang berinisiatif memberikan laporan adanya overstated (Tjager dkk.,2003). Dalam kasus ini terjadi pelanggaran terhadap prinsip pengungkapan yang akurat dan transparasi yang akibatnya sangat merugikan para investor, karena laba yang overstated ni telah dijadikan dasar transaksi oleh para investor untuk berbisnis.

Referensi :